Senin, 29 Juni 2009

Beberapa hari lalu saya membaca sebuah blog tentang efek lahiriah dan metafisika sebagai feedback membaca AL-Qur'an lengkapnya bisa di baca di http://musadiqmarhaban.wordpress.com/2007/04/16/antaaphysical-phenomenon/#comment-12131

Tak sadar air mata ini menetes saat membaca isi blog milik Ustadz Musadiq. Air mata ini menetes bukan saja karena malu tetapi juga kesel. Setelah 6 bulan belajar membaca ayat-ayat suci itu, sampai detik ini saya masih saja belum lancar... "bodohnya diriku"..[membandingkan diri dengan teman2 sebaya yang hebat sekali mengajinya]. Berfikir, berfikir, berfikir dan berfikir.Semangat ku tinggi buat memabaca.. tapi kali ini bisikan Iblis menang..

Saya berhenti belajar, saya fikir.."nanti saja belajarnya kalo sudah mengikuti kelas mengaji, percuma juga ngaji tapi nggak bener melafalkannya..."

Minggu pagi saya datang ke sebuah majelis di daerah gegerkalong Bandung..
Ustadz Aam Amirudin berkata "Bersyukurlah mereka yang susah sekali dalam belajar, karena Allah menilai proses bukan hanya hasil".

Kembali saya membaca blog milih Ustadz Musadiq ini. Saya resapi isi blog ini..

Saya jadi ingat. walaupun belum bisa membaca Al-Qur'an itu dengan lancar dan benar sepenuhnya, tapi dengan mempelajarinya saja saya sudah banyak mendapatkan hidayah. sebagi contoh bulan April kemarin saya masuk surat An-Nisa.. ketika membaca surat ini dengan terbata-bata tiba-tiba keinginan untuk menutupi aurat yang selama ini saya inginkan semakin kuat dan akhirnya menjadi kenyataan.. 24 April 2009 saya mengenakan kerudung ini... Alhamdulillah.. ini bukti Allah mewujudkan impian makhluk-Nya yang berusaha. ternyata terlalu banyak rahmat Allah yang belum saya syukuri..

vie.. vie.. ckckck...
Kamu berhenti belajar, kamu meninggalkanNya tapi Allah tidak pernah meningalkanmu walaupun kamu sempat meninggalkanNya...

Ya Allah bantu hamba untuk tidak pernah berhenti belajar mencintaiMu...
Bantu hamba membuka mata hati hamba agar hamba mampu melihat yang sesungguhnya.

Selasa, 21 April 2009

Hanya ingi tertawa

Apakah aku salah, sebagai manusia biasa yang ingin tertawa lepas tanpa derita?

Apakah hanya orang yang penuh suka yang dapat tertawa lepas dan bebas….?

Atau, apakah hanya aku yang ingin tertawa diatas luka yang tak pernah terucap?

Aku hanya ingin itu...!!!

 

Aku tak pernah yakin siapa aku sebenarnya?

Aku tidak pernah tau siapa saja yang ada disekitarku!

Aku tak pernah mengerti apa yang telah aku lakukan

Aku hanya tau, mereka yang tidak pernah merasakan menjadi diriku…,mampu menghakimi aku seperti ini!

                                                                          

Aku bukan manusia yang layak diperlakukan seperti ini!!!

Seperti seolah-olah kau pernah menjadi diriku…!!!

Atau mungkin kau berbuat seperti ini karena kau percaya….kau takkan pernah merasakan perih yang kaubuat untuk ku?

Tak pernah sanggup aku mengerti !!!!

 

Atau kau berfikir aku hanyalah butiran pasir yang tak memiliki arti!!!

Yang diam saat terinjak….dipermainkan….dan..diterlantarkan…!!!

 

Apakan seperti ini??

Andaikan aku mengerti...bagaimana caranya agar aku sanggup tertawa!!!

Menunggu...

Seberapa lamakah waktu yang ku butuhkan untuk menunggu
Seberapa besarkah keyakinan ku untuk menunggu

Menjalani kehidupan yang pertama kali ku rasakan ini, memanglah bukan perjalanan yang mudah untuk dilalui. Aku memulainya dengan tangisan, tangisan yang muncul ketika embrio dalam rahim seorang wanita, berubah menjadi gumpalan darah 
kemudian menjadi gumpalan daging 
Menjadi janin, 
Ditiupkan ruh kedalam tubuh janin itu oleh-Nya
Kemudian lahir dan 
Manjadi seorang bayi merah.

Kata ibuku Aku sangat sulit untuk dilahirkan mungkin karena aku menikmati ruang sempit itu.  Apakah aku merasakan kenyamanan yang luar biasa di dalam perut seorang wanita yang belum pernah ku kenal sebelumnya yang kini menjadi ibuku, Ataukah aku takut menghadapi hal baru? Sepertinya aku takut menghadapi ruang yang belum pernah ku temui sebelumnya sehingga ketakutan itu berubah menjadi tangisan seorang bayi merah yang luar biasa keras. 

Aku mengalah. Aku tidak mau membiarkan wanita dewasa yang selama 9 bulan ini ku repotkan dengan menyita bagian tubuhnya untuk tempat tinggalku ini terus-menerus menangis kesakitan. Biarlah dia bernafas dan aku yang menggantikannya menangis.
Hey mengapa kau harus menangis? Jika kau ingin membantu wanita itu kau tidak perlu menangis.. apa kau tidak rela membantu wanita itu?

Aku rela tapi aku..
Ingin sekali aku tertawa dan berteriak..
“Hey… wanita yang menjadi tempat tinggalku selama ini…!” (seru ku keras dalam tangis ku)
“Mengapa kau tertawa saat aku menangis?” 
“Mengapa kau tertawa diatas penderitaan orang lain?” 

Tapi sepertinya aku harus segera meminta maaf karena aku bukanlah orang lain tetapi aku adalah darah daging mu.. dan lagi-lagi aku salah karena kau bukan tertawa… tapi kau tersenyum…  Begitulah kira-kira monologku dalam hati. Andaikan aku ingat seperti apa indah senyum mu waktu itu. Didampingi seorang pria bertubuh besar yang sejak tadi tidak henti-hentinya memberikan semangat dan kecupan hangat di dahi seraya mengusap keringat yang bercucuran di kening dan leher wanita itu.

Wanita itu menunggu 9 bulan 10 hari untuk sebuah senyuman. 
Kini aku mengalami kegiatan yang sama seperti wanita itu. Berapa lama waktu yang harus aku tunggu? 
Aku menunggu..
Tapi kini bukanlah teriakan dan tangisan bayi merah yang ku tunggu..

Tapi aku menunggu
Menunggu genggaman erat dan sentuhan lembut dia yang mendampingi wanita itu ketika aku dilahirkan.

“Berapa lama aku harus menunggu?”

Peluh ku mengintai malam ku..

Hmm... aku pilih tersenyum saja agar penantianku ini indah
Penantian yang tak terbatas ruang dan waktu…